UU Cipta Kerja, Ketua Banggar: Setop hoaks untuk provokasi buruh

UU Cipta Kerja, Ketua Banggar: Setop hoaks untuk provokasi buruh

Setop penyebaran hoaks untuk memprovokasi kalangan buruh. Ini sangat mengganggu produktivitas kita dalam bekerja untuk memulihkan ekonomi sebagai akibat dampak dari pandemi COVID-19

Jakarta (ANTARA) – Ketua Badan Anggaran (Banggar) Said Abdullah menyesalkan adanya banyak informasi yang salah pada masyarakat pasca-Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja disahkan menjadi Undang-Undang dalam Senin (5/10) lalu.

Mentioned menuturkan pembelokan informasi paling masif terjadi pada klaster ketenagakerjaan yg disinyalir motifnya untuk memprovokasi kalangan buruh. Padahal, semangat dari UU Cipta Kerja adalah memberikan perlindungan secara komprehensif terhadap pekerja.

“Setop penyebaran hoaks buat memprovokasi kalangan buruh. Ini sangat mengganggu produktivitas kita dalam bekerja untuk memulihkan ekonomi sebagai akibat dampak dari pandemi COVID-19, ” ujar Said dalam pernyataan pada Jakarta, Rabu.

Baca juga: Buruh lanjutkan aksi mogok nasional hari ini

Menurut Said, penyesatan informasi tersebut sangat berbahaya dan bisa menimbulkan gejolak di tengah tengah masyarakat. Oleh sebab itu,, dia meminta semua elemen menahan diri agar tidak menjadi corong penyebaran hoaks soal UU Cipta Kerja tersebut.

Said memastikan UU Cipta Kerja memberikan perlindungan yang komprehensif bagi tenaga kerja. Bahkan untuk pekerja kontrak pun diberikan kompensasi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

“Saya pastikan UU Cipta Kerja membuat para tenaga kerja akan melimpah terbantu, ” kata Said.

Dia menegaskan tidak benar bahwa tidak ada status karyawan tetap dan perusahaan bisa proses PHK kapanpun. Ketentuan dalam Pasal 151 Bab IV Undang Undang Cipta Kerja memberikan mandat yg jelas bahwa pemerintah, pengusaha dan serikat pekerja mengupayakan tidak terjadi PHK.

Baca juga: Rupiah ditutup menguat, pasar optimis lagi terkait isi UU Cipta Kerja

Bila akan melakukan PHK, ketentuannya diatur dengan tahap yang jelas, harus melalui pemberitahuan ke pekerja, perlu ada perundingan bipartit, dan mekanisme penyelesaian hubungan industrial.

“Jadi bukan serta merta langsung bisa PHK, ” ujarnya.

Pasal 153 Bab IV UU Cipta Kerja juga mengatur pelarangan PHK dikarenakan beberapa hal misalnya berhalangan kerja karena sakit berturut turut selama satu tahun, menjalankan ibadah karena diperintahkan agamanya, menikah, hamil, menjadi anggota serikat pekerja, mengadukan pengusaha kepada polisi karena yang bersangkutan melakukan tindak kejahatan, dan lain-lain.

Baca juga: Muhammadiyah ajak penduduk tahan diri soal Cipta Aksi

Pasal 154 Bab IV UU Cipta Kerja mengatur PHK hanya boleh antara lain karena penggabungan, peleburan, pengambilalihan atau pemisahan perusahaan, perusahaan tutup karena kerugian, serta pekerja sakit berkepanjangan lebih dari satu tahun. Selain itu, lanjutnya, tidak benar karyawan alih daya / outsourching bisa diganti dengan kontrak seumur hidup, karena hal itu diatur dalam Pasal 66.

Kemudian dia juga menuturkan bukan benar bahwa hak cuti karyawan dihilangkan, karena hal itu diatur dalam Pasal 79.

Bahkan dia mengatakan tidak benar bahwa jaminan sosial dan kesejahteraan lainnya hilang, karena ada di dalam Pasal 82.

Baca juga: Kemenkeu: UU Cipta Kerja modal pemulihan selain pengendalian COVID-19

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020