Muhammadiyah sebut pasien COVID-19 OTG tidak wajib puasa

Promo menarik pada undian Data Sidney 2020 – 2021.

Puasa Ramadhan wajib dilakukan kecuali bagi orang yang sakit

Jakarta (ANTARA) – Pengurus Induk Muhammadiyah menyatakan bahwa penderita yang terkonfirmasi positif COVID-19, termasuk bagi yang tidak bergejala atau Orang Minus Gejala (OTG) tidak wajib menunaikan puasa.

“Puasa Ramadhan wajib dilakukan melainkan bagi orang yang sakit dan kondisi kekebalan tubuhnya tidak baik. Orang yang terkonfirmasi positif COVID-19, cantik bergejala dan tidak bergejala (OTG) masuk dalam kawanan orang yang sakit, ” tulis Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam keterangan resmi dalam Jakarta, Senin.

Haedar  menjelaskan hal tersebut tercantum dalam poin perdana dalam Surat Edaran PP Muhammadiyah tentang Ibadah Ramadhan 1442 Hijriah.

Selain pasien positif COVID-19, Muhammadiyah juga mengecualikan para tenaga kesehatan untuk tetap berpuasa.

Buat menjaga kekebalan tubuh dan dalam rangka berhati-hati guna menjaga agar tidak tertular COVID-19, tenaga kesehatan dapat meninggalkan puasa Ramadhan secara ketentuan menggantinya setelah Ramadhan.

Baca juga: Ahli: Bangsa diminta tidak ragu vaksinasi COVID-19 saat berpuasa

Vaksinasi boleh dilakukan saat bertarak dan tidak membatalkan puasa karena diberikan tidak melalui mulut atau rongga tubuh lainnya, seperti hidung beserta tidak memuaskan keinginan & bukan merupakan zat sasaran yang mengenyangkan.

Ada pun bagi bangsa yang di sekitar wadah tinggalnya terdapat penularan COVID-19, shalat berjamaah, baik shalat fardu, Shalat Jumat, maupun Shalat Tarawih dilakukan pada rumah masing-masing untuk menghindari penularan virus corona.

Namun, jika tidak ada penularan, shalat berjamaah dapat dilaksanakan di langgar, mushola, langgar atau wadah lainnya dengan memperhatikan aturan kesehatan.

Selain itu, kajian atau pengajian yang beriringan dengan kegiatan shalat berjamaah dapat dilakukan dengan mengurangi durasi waktu agar tidak terlalu lama dan tetap menerapkan aturan kesehatan.

“Namun jika di wilayah tersebut ada kasus positif COVID-19, kajian atau pengajian sepantasnya dilakukan secara daring ataupun membagikan materi ke jamaah haji di rumah, ” cakap Haedar Nashir.

Baca serupa: Sejumlah desa di Pulau Ambon beribadah puasa bertambah awal

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2021