Menristek: Indonesia bertekad salip Vietnam dalam produksi kopi

Menristek: Indonesia bertekad salip Vietnam dalam produksi kopi

96 tip produk kopi Indonesia disumbang sebab perkebunan kopi rakyat

Jember, Jawa Timur (ANTARA) – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Penelitian dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan Indonesia berkeinginan meningkatkan produktivitas kopinya hingga merebut kembali posisi sebagai produsen salinan nomor nomor dua di negeri yang kini ditempati Vietnam.

“Peningkatan produksi kopi menjadi salah satu program ekonomi nasional mengingat 96 persen produk kopi Indonesia disumbang oleh perkebunan kopi rakyat, ” katanya saat menjadi pembicara sari dalam webinar bertema Indonesia Dalam Peta Kopi Dunia: Peluang dan Prospek, yang digelar oleh Pusat Tilikan Gastrodiplomasi Center for Research in Social Sciences and Humanities (C-RiSSH) Universitas Jember, Jawa Timur, Sabtu sore.

Menurutnya, jika produktivitas kopi naik maka pengaruh positifnya akan dirasakan oleh asosiasi, dari petani hingga pelaku daya di bidang kopi karena saat ini rata-rata produksi kopi per tahun Indonesia mencapai 600 ribu ton dari 1, 3 juta hektare lahan perkebunan kopi.

“Dari jumlah tersebut, 45 persen diserap pasar dalam jati, dan sisanya diekspor, ” sekapur mantan Menteri Keuangan dan Gajah PPN/Ketua Bappenas itu.

Ia mengatakan jumlah luasan parak kopi Indonesia lebih luas dipadankan Vietnam, namun Vietnam lebih suntuk mengembangkan kopi hingga menyalip Nusantara dan petani Indonesia masih bertemu kendala pada lahan petani dengan terbatas, dan masih menjadi tanaman sampingan saja.

“Masalah berikutnya adalah pada tahapan pascapanen, sehingga Kemenristek/BRIN melalui LIPI sudah mengembangkan berbagai teknologi tepat guna untuk petani kopi, ” tuturnya.

Ia menjelaskan salah satu program bantuan teknologi tepat berperan yang dimotori oleh LIPI dilakukan di Kabupaten Sumba Barat Daya dan program itu berhasil beranak produk kopi yang dinamakan Ganda Kopi Sumba yang berhasil menyerang gelar juara kopi nasional dalam tahun 2017 dan 2018 berarakan.

“Saya berharap supaya perguruan tinggi seperti Universitas Jember ikut berperan dengan membentuk asosiasi multidisiplin dalam meneliti kopi dengan melibatkan banyak pakar dari bermacam-macam disiplin keilmuan, agar pengembangan contoh Indonesia makin maju, ” katanya.

Sementara Ketua Koalisi Eksportir dan Industri Kopi Nusantara (AEKI) Irfan Anwar mengatakan penambahan produktivitas kopi perlu menjadi mengindahkan pemerintah karena luasan kebun tiruan Indonesia masih lebih besar daripada Vietnam.

Jika Nusantara memiliki luasan 1, 3 juta hektare maka Vietnam hanya punya 650 ribu hektar, namun daya kebun kopi Vietnam masih bertambah unggul karena bisa menghasilkan dua, 3 ton kopi per hektare, sedangkan di Indonesia maksimal hanya 700 kilogram saja.

“Tak heran jika Vietnam melaju menjadi penghasil kopi nomor perut di dunia dan produsen cetakan satu dunia masih diduduki oleh Brazil, nomor tiga Kolombia serta Indonesia di nomor empat, ” tuturnya.

Ia mengatakan tantangan menaikkan produktivitas kebun model Indonesia juga menghadapi kendala era ini, yakni merebaknya pandemi COVID-19 sehingga ekspor kopi tersendat dengan berdampak pada banyak hotel tutup, kafe tutup yang membuat kehormatan kopi dunia turun hingga 30 persen.

Namun, makna kopi speciality yang menjadi salah satu unggulan Indonesia masih bertahan. Kalau peningkatan produksi kopi bisa diwujudkan maka 2 juta petani Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada usaha perkebunan kopi akan lebih sentosa, termasuk para pelaku usaha tiruan dari hulu hingga hilir.

Rektor Universitas Jember Iwan Taruna mendukung berlangsungnya webinar itu karena kopi sudah menjadi lengah satu kekuatan ekonomi Indonesia dan sekaligus berpotensi sebagai pilar muslihat Indonesia.

“Saya catatan untuk Pusat Kajian Gastrodiplomasi Center for Research in Social Sciences and Humanities (C-RiSSH) Universitas Jember yang konsisten menggelar webinar dalam kerangka gastrodiplomasi, ” katanya.

Baca pula: Meski pandemi, Menkop catat ekspor kopi Indonesia masih tumbuh
Baca juga: Menkop: RI bisa impor kopi jika tidak disertai kenaikan produksi
Baca pula: Kemendag dorong ekspor kopi Indonesia ke Meksiko

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020