Rupiah-Menguat-280119-sgd-4

Gubernur BI: Rupiah berpotensi menguat, itu indikatornya

Penguatan nilai tukar rupiah berpotensi berlanjut seiring levelnya yang secara fundamental masih undervalued

Jakarta (ANTARA) – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan nilai tukar rupiah berpotensi terus menguat karena didukung sebesar indikator di antaranya defisit transaksi berjalan dan inflasi yang kecil dan terkendali.

“Penguatan poin tukar rupiah berpotensi berlanjut berbarengan levelnya yang secara fundamental sedang undervalued , ” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers daring di Jakarta, Selasa.

Taat dia, nilai tukar rupiah yang diperdagangkan saat ini kisaran Rp14. 740 per dolar AS masih undervalued atau rendah dari nilai sesungguhnya.

Gubernur BI membaca defisit transaksi berjalan diperkirakan lembut untuk keseluruhan tahun 2020 mencapai 1, 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Baca juga: Rupiah Selasa pagi menguat 5 pokok

Anggapan itu, kata Perry Warjiyo, didorong potensi kenaikan surplus neraca perniagaan triwulan III 2020 yang ditunjukkan pada Juli-Agustus 2020 mencatat surplus 5, 57 miliar dolar AS.

Untuk inflasi, BI memproyeksi juga berada dalam kisaran rendah yakni di bawah dua persen hingga akhir tahun 2020 atau berada di bawah pemisah bawah sasaran inflasi 3 tambah minus 1 persen.

Indikator lainnya, lanjut Perry Warjiyo, daya tarik aset keuangan Nusantara juga tinggi ditunjukkan perbedaan suku bunga imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun secara di Amerika Serikat mencapai enam, 9 persen.

Selain itu premi risiko Indonesia, logat dia, juga menurun dari 110 menjadi 66 yang turut mendorong penguatan terhadap nilai tukar rupiah.

Menangkap juga: BI tahan suku bunga acuan, rupiah Selasa ditutup menyurut

Dalam September 2020 rupiah tercatat menyurut 2, 13 persen dari pokok ke poin (ptp) dipengaruhi tingginya ketidakpastian pasar keuangan, baik karena faktor global maupun faktor domestik.

Sementara itu kausa Oktober 2020 nilai tukar rupiah per 12 Oktober kembali menguat 1, 22 persen (ptp) atau rata-rata 0, 34 persen dibandingkan dengan level September 2020.

Penguatan rupiah itu, cakap Perry Warjiyo, didorong kembali masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik dipengaruhi meningkatnya likuiditas global dan tetap terjaganya anutan investor terhadap prospek perekonomian domestik.

Membaca juga: Bahlil: Besok draf final UU Cipta Kerja diserahkan ke pemerintah

Pada awal Oktober 2020 aliran masuk modal asing secara berangsur membaik sehingga per 9 Oktober 2020 tercatat sebesar 0, 33 miliar dolar AS.

Sementara itu nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore ditutup melemah seiring ditahannya suku bunga rujukan oleh Bank Indonesia.

Rupiah ditutup melemah 25 poin atau 0, 17 persen menjelma Rp14. 725 per dolar AS dari sebelumnya Rp14. 700 bohlam dolar AS.

Baca juga: Erick Thohir ungkap tujuan dan harapan sebab merger 3 bank BUMN syariah

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020