Erick ungkap alasan Indonesia tidak beli vaksin Covid Pfizer-Moderna

Erick ungkap alasan Indonesia tidak beli vaksin Covid Pfizer-Moderna

Jakarta (ANTARA) – Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan alasan pemerintah Nusantara tidak akan membeli vaksin sejak Pfizer atau Moderna yakni karena syarat penyimpanan dan distribusi santai (cold chain) vaksin yang bertentangan dengan produsen tersebut.

Erick yang juga Wakil Ketua IV dan Ketua Pelaksana Komite Pengerjaan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) menjelaskan penentuan merk ataupun jenis vaksin Covid-19 berada dalam tangan Kementerian Kesehatan berdasarkan daftar yang ada di WHO dan telah melalui uji klinis satu dan 2 tang datanya ada.

“Dan nanti ketika dipergunakan itu, BPOM yang keluarkan izin. Tentu sebagai catatan bunga, vaksin yang akan dibeli pemerintah juga vaksin yang cold chain atau distribusinya friendly dengan pembagian kita, yaitu -2 sampai -8 derajat celcius, ” katanya di dalam webinar Kesiapan Infrastruktur Data Vaksinasi COVID-19, Selasa.

Baca juga: Erick pastikan kerahasiaan data untuk vaksinasi COVID-19

Tersedia pun vaksin pengadaan vaksin jalan dari Sinovac, Novavax, maupun AstraZeneca, disebutnya telah memenuhi persyaratan tersebut. Sementara itu, Erick menuturkan vaksin Pfizer membutuhkan suhu -75 status celcius, sementara vaksin Moderna membutuhkan suhu -20 derajat celcius pada rantai distribusinya.

“Kalau kita harus membongkar sistem bagian kita jadi -20 derajat, ini akan menghambat distribusi yang lazim kita lakukan. Kalau persiapan itu tiga tahun lagi, beda, tapi ini persiapan yang harus dikerjakan dan sistem distribusi kita sudah berjalan baik selama ini secara -2 sampai -8 derajat celcius, ” katanya.

Erick menegaskan, dengan alasan itulah pemerintah memilih produsen-produsen vaksin yang sudah diputuskan dalam pengadaan untuk vaksinasi Covid-19.

Baca juga: Erick Thohir tanggapi permintaan vaksin gratis bagi segenap warga

“Kenapa Pfizer dan Moderna belum bisa, karena cold chain-nya -75 dan -20 derajat celcius. Buat negara seperti Amerika pun itu akan ada transisi, ” imbuhnya.

Oleh karena itu, Erick meminta publik tidak menilai pemerintah membeli merk vaksin tertentu karena alasan bisnis semata. Dia menegaskan pemerintah memilih produsen vaksin sesuai dengan kriteria dan jumlah yang diperlukan.

Ia juga mengatakan kebutuhan vaksin Covid-19 di seluruh dunia mencapai 16 miliar dosis, namun hingga era ini produksinya baru mencapai 4 miliar dosis.

“Karena itu kenapa pemerintah agresif sejak awal. Kita mau pastikan vaksin yang kita miliki dan vaksin merah putih disiapkan untuk jangka panjangnya tetapi juga yang sesuai dengan distribusi kita dan cocok standard WHO yang sudah ada uji klinis 1-2 dan BPOM menerbitkan sesuai data-data yang tersedia, ” katanya.
 

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020